Timnas Indonesia Terancam Sanksi Denda Akibat Tidak Memakai Patch Piala AFF 2018

Pelanggaran regulasi terjadi tatkala Timnas Indonesia berlaga melawan Timor Leste saat matchday kedua Piala AFF 2018. Pelanggaran tersebut berada pada jersey yang digunakan Timnas Indonesia dimana Timnas Indonesia mengenakan jersey utama berwarna merah saat berlaga di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Kejanggalan tersebut terlihat lantaran jersey yang dikenakan berbeda denan jersey saat bertandang ke markas Singapura pada matchday pertama. Kejanggalan raja poker yang terlihat adalah pasukan Garuda mengenakan seragam merah-merah-merah dan memakai jersey tanpa patch atau logo turnamen yakni Piala AFF 2018 di lengannya.

Hal tersebut berbeda tatkala jersey putih milik Timnas Indonesia terdapat patch Piala AFF 2018 di lengan kanan. Sayangnya, patch itu hilang saat tim Garuda mengenakan jersey utama yang berwarna merah di Piala AFF 2018. Kelalaian memasang patch Piala AFF 2018 ini juga melanggar regulari yang telah dibuat oleh Piala AFF 2018.

Terdapat peraturan dalam Colour and Numbers of Team. Dalam peraturan tersebut ditegaskan dengan menginstruksikan tim peserta agar memasang logo turnamen di lengan kanan jersey. Adapun bunyi peraturannya sebagai berikut: “Ruang harus dikosongkan di masing-masing lengan jersey, tak boleh ada logo apparel sponsor atau identitas federasi yang tampak,”

Lalu, “Ruang bebas di Lengan Jersey itu secara eksklusif disiapkan untuk logo turnamen. Tak ada elemen lain yang boleh berdekatan dengan logo tersebut,” dengan adanya peraturan tertulis ini jelas sudah bahwa logo turnamen di lengan kanan jersey merupakan keharusan bagi seluruh tim peserta.

Sayangnya pelanggaran yang terlihat sepele oleh timnas Indonesia harus dibayar mahal tatkala panitia Piala AFF 2018 telah menyiapkan sanksi akibat dari pelanggaran tersebut. Adapun dalam regulasi Piala AFF 2018, apabila terdapat tim yang melakukan pelanggaran terhadap jersey, pelanggaran pertama yang akan dikenakan merupakan sanksi denda 5.000 dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp 73,8 juta.

Lalu, apabila pelanggaran terulang, timnas Indonesia akan merasakan denda dua kali lipat yakni membayar 10.000 dolar Amerika Serikat atau serta dengan Rp 147 juta. Adapun pelanggaran yang lebih lanjut lagi akan mendapatkan sanksi yang lebih berat.

Kelalaian yang dilakukan timnas Indonesia pun mendadak viral dan mendapat sorotan dari warganet. Warganet yang pencinta sepakbola mengaku kecewa dan menyayangkan kesalahan kecil namun fatal yang dilakukan oleh timnas Garuda kita. Bahkan ada warganet yang beranggapan hal itu sebagai azab bagi Indonesia.

Ada juga yang menyalahkan federasi Indonesia yakni PSSI dimana masalah demi masalah masih terus menjamur tanpa terlihat akan diselesaikan karena hanya kesalahan kecil ini dapat berujung fatal bagi Indonesia. Saat dihubungi pun, Gatot Widakdo selaku Kepala Hubungan Media dan Promosi Digital PSSI mengakui kelalaian tersebut. Ia mengaku bahwa tim bagian jersey PSSI lupa memasang patch Piala AFF 2018 di baju timnas Indonesia.

Gatot pun menambahkan bahwa patch tersebut baru ia dapatkan H-1 sebelum pertandingan melawan Singapura. Gatot mengaku itu buru-buru dipasang sehingga belum sempat terpasang di jersey merah. Ia juga menambahkan kemungkinan lupa terpasangnya patch akibat kekalahan 0-1 dari Singapura dan mereka baru menyadari hal tersebut ketika hendak bertanding melawan Timor Leste di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Mereka tetap harus mengenakan jersey merah karena mereka tuan rumah. Kedepannya, ia memastikan bahwa di Thailand nanti semua patch sudah terpasang, baik di jersey kandang ataupun tandang.

Real Madrid Pecat Zidane Jika Gagal Juarai Champions?

Tinggal beberapa jam saja, perhatian penggila bola di seluruh dunia akan tertuju pada NSC Olimpiyskiy Stadium di Kiev hari Minggu (27/5) dini hari WIB. Karena dua klub raksasa terbaik di tanah Eropa, Real Madrid dari Spanyol dan Liverpool dari Inggris akan saling bertempur untuk jadi yang terbaik di final Liga Champions 2017/2018.

 

Madrid jelas berhasrat untuk kembali jadi juara Champions untuk tiga tahun berturut-turut setelah di musim 2015/2016 dan 2016/2017. Namun Liverpool jelas bukan jadi musuh yang mudah bagi Madrid. Apalagi jika bicara sejarah, The Reds pernah mengalahkan Madrid di masa lalu dalam final Liga Champions 1980/1981 dengan skor tipis 1-0. Bukan tak mungkin kalau Liverpool mampu mengulang momen 37 tahun lalu itu.

 

Hanya saja gelar juara ini tampaknya jadi raihan wajib untuk pelatih Madrid, Zinedine Zidane. Menurut Paul Merson yang juga adalah mantan gelandang Arsenal, posisi Zidane saat ini tengah terancam pecat jika Madrid gagal juara Champions. Sekedar informasi, Los Blancos memang menjalani musim ini cukup buruk di liga domestik di mana kehilangan Copa del Rey dan La Liga sehingga Liga Champions adalah satu-satunya peluang terakhir Madrid meraih trofi di 2018.

 

“Zidane bisa saja meraih juara Champions tiga tahun berturut-turut dan itu jadi prestasi luar biasa. Tapi jika dia kalah, aku sangat terkejut kalau Madrid masih mempertahankannya karena memang faktanya mereka kalah jauh di belakang Barcelona. Zidane memang memberikan dua gelar Champions beruntun, tapi itu terjadi saat dia bekerja dengan para pemain kelas dunia. Champions itu cuma bonus karena di Spanyol adalah pertaruhan sesungguhnya dan penilaian haruslah di liga domestik,” ungkap Merson seperti dilansir Metro.

 

Peluang Juara Madrid – Liverpool Sama

Menanggapi laga final yang akan terjadi beberapa jam lagi, Zidane menilai kalau peluang anak asuhnya dan Liverpool sama-sama kuat yakni 50:50. Hanya saja Madrid memang cukup diunggulkan apalagi dengan materi pemain bintang seperti Cristiano Ronaldo, Gareth Bale dan Karim Benzema serta status juara dua tahun beruntun. Namun keunggulan ini tak membuat Zidane meremehkan Liverpool.

 

Sebagai tim kejutan yang mampu menembus final Liga Champions, mantan gelandang timnas Prancis itu sadar jika Liverpool punya peluang mengalahkan Madrid. “Kami harus bermain baik untuk meenang di final. Di ruang ganti, kami tak merasa jadi favorit. Kerja keras dari semua pemain adalah yang dimiliki Madrid,” papar Zidane seperti dilansir ESPN.

 

Bagi Liverpool sendiri, mereka memang datang ke Kiev dengan tekanan besar karena harus melawan klub raksasa yang memiliki 12 gelar Liga Champions. Final ini adalah kali pertama bagi anak asuhan Juergen Klopp sejak Liga Champions musim 2006/2007 alias 11 tahun silam.

 

Trisula Madrid vs Trio Liverpool Siap Beradu

Final ini juga jadi ajang pembuktian ketajaman antara trisula BBC (Bale, Benzema, Cristiano) milik Madrid dan trio Firmansah (Roberto Firmino, Sadio Mane dan Mohamed Salah)milik Liverpool. Dalam BBC, hanya Ronaldo yang paling tajam dengan total 15 gol sementara Benzema dan Bale masing-masing mencetak empat gol. Sementara, Firmansah tengah on fire dengan Salah dan Firmino sama-sama membukukan 10 gol dan Mane sembilan gol. Belum lagi final ini akan jadi momen pertama BBC main bareng karena selalu terhalang cedera Benzema dan Bale.